January 21, 2018

Kejari Temukan SKGR Agunan Kredit Fiktif BRI Agro


RIAU, PEKANBARU - Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru menemukan barang bukti dugaan tindak pidana kredit fiktif Bank BRIAgro kepada debitur perkebunan seluas 54 hektar. Barang bukti itu berupa Surat Keterangan Ganti Rugi (SKGR) senilai Rp 4 Miliar.

Lahan seluas 54 hektare yang menjadi agunan kredit sebesar Rp 4 miliar pada tahun 2009 lalu itu selama ini diketahui tidak dikuasai oleh BRIAgro Cabang Pekanbaru sebagai pihak pemberi kredit.

Diketahui saat itu, pihak bank memberikan kredit dalam bentuk modal kerja untuk pembiayaan dan pemeliharaan kebun kelapa sawit yang terletak di Desa Pauh Kecamatan Bonai Darussalam, Rokan Hulu (Rohul), kepada 18 debitur atas nama Sugito dan kawan-kawan, dengan total luas lahan kelapa sawit seluas 54 hektare sebagai agunan.

"Selama ini surat (SKGR,red) 54 hektare ini tidak dikuasai oleh bank. Selama proses penyidikan ini lah kita dapatkan suratnya dari tangan seorang oknum BPN Rohul. Sekarang lahan tersebut masuk daerah Kampar. Ini upaya kita dalam penyelamatan kerugian negara," ungkap Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Pekanbaru, Minggu (21/1/2018).

Total kredit yang diberikan senilai Rp 4.050.000.000 terhadap 18 debitur tersebut memiliki jumlah bervariasi yaitu Rp 150 juta dan Rp 300 juta. Jangka waktu kredit selama 1 tahun, dan jatuh tempo Februari 2010, dan diperpanjang beberapa kali sampai dengan 6 Februari 2013.

Sejak tahun 2015, terhadap kredit tersebut dikategorikan sebagai kredit bermasalah (non performing loan) sebesar Rp3.827.000.000 belum termasuk bunga dan denda. Diduga terdapat rekayasa dalam pemberian kredit karena penagihan terhadap debitur tidak dapat dilakukan karena mereka tidak pernah menikmati fasilitas kredit yang diberikan.

Agunan kebun kelapa sawit seluas 54 hektar alas hak berupa SKT/SKGR tidak dikuasai oleh BRIAgro dan tidak dapat ditingkatkan menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM) karena termasuk dalam areal pelepasan kawasan 3 perusahaan serta termasuk dalam kawasan kehutanan.

Azwarman menerangkan jika, lahan tersebut terdiri dari 27 persil dalam satu hamparan. Terhadap SKGR tersebut, kata Warman, telah diserahkan ke pihak bank. Selanjutnya, dilakukan penyitaan sebagai barang bukti dalam kasus dugaan rekayasa kredit yang tengah ditangani Penyidik.

"Jadi SKGR diserahkan ke Bank, dan dari bank lah kami lakukan penyitaan," tandasnya.

Sementara itu, terhadap lahan agunan, Penyidik telah mengajukan permohonan penyitaan ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru.

"Sudah kita ajukan surat permintaan sita minggu lalu ke pengadilan. Kalau alat bukti bergerak, seperti sertifikat arau surat tanah, dokumen kredit, dan yang lainnya sudah kita sita. Ini tidak butuh persetujuan pengadilan, cukup pemberitahuan saja," urainya.

Dalam kasus ini, Penyidik telah menetapkan dua orang tersangka. Mereka adalah SH yang merupakan mantan Kepala Cabang (Kacab) BRIAgro Pekanbaru, dan JYH yang merupakan mantan pegawai PT Perkebunan Nasional (PTPN) V. Berkas kedua pesakitan tersebut kini masih ditelaah Jaksa Peneliti.

Dari penyidikan yang dilakukan, Penyidik meyakini keterlibatan kedua tersangka dalam pencairan kredit di bank yang saat itu bernama Bank Agro Cabang Pekanbaru senilai Rp4 miliar. JYH diduga sebagai pihak yang mengatur dan mencari debitur kredit, beserta agunan yang dijaminkan ke bank, karena sebagian debitur adalah bawahan dan keluarganya. Dia juga diduga menikmati uang pencairan itu. Sementara SH selaku Kacab BRIAgro Pekanbaru yang diduga tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana mestinya terkait proses verifikasi dan pencairan kredit.

Terhadap tersangka SH kini sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejari Pekanbaru. Ia dimasukkan ke dalam DPO karena tak kunjung menghadiri panggilan penyidik.(gun)